08/10/2020 16:13:24
Info Kesehatan

Memahami 5 Gangguan Mental yang Serius dan Berbahaya

Foto: Ilustrasi/Internet

Masalah gangguan mental atau kejiwaan kerap terjadi ditengah masyarakat. Dari beragam jenis gangguan mental, ada lima yang perlu diwaspadai karena sangat serius dan berbahaya. Apa saja?

Gangguan mental atau gangguan kejiwaan masih menjadi salah satu permasalahan yang signifikan di dunia, termasuk Indonesia. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 35 juta orang mengalami depresi, 60 juta orang menderita bipolar, 21 juta orang berjuang dengan skizofrenia, serta 47,5 juta orang terkena demensia.

Berikut ini adalah lima gangguan mental serius yang dapat membahayakan penderitanya seperti yang dilansir dari KlikDokter:

1.   Bipolar

Gangguan bipolar merupakan salah satu jenis gangguan kejiwaan yang ditandai dengan perubahan atau gangguan suasana hati (mood) yang ekstrem. Perubahan atau gangguan ini bisa berupa depresi (sedih yang berlebihan) dan manik (kegirangan yang berlebihan) yang terjadi secara bergantian.

Gangguan bipolar ini berupa episode-episode yang berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa bulan. Di luar episode gangguan mood, penderitanya dalam keadaan normal.

Dikatakan oleh dr. Anita Amalia Sari dari KlikDokter, gejala gangguan bipolar antara lain:

-Mengalami depresi, terlihat kehilangan minat, murung, cepat lelah, dan menarik diri dari lingkungan selama beberapa minggu hingga hitungan bulan. Fungsi sosialnya terganggu secara jelas.

-Mengalami manik, yaitu peningkatan mood, berbicara sangat cepat, dan sering kali loncat dari satu ide ke ide lain dengan cepat, secara sadar senang menghamburkan uang walaupun tidak memiliki banyak uang/ Terlihat perilaku ingin menyenangkan semua orang.

Dua hal di atas terjadi secara bergantian, dalam kurun waktu minggu hingga bulan. Kondisi ini mengganggu fungsi sosial penderita dengan jelas, misalnya pekerjaannya terbengkalai.

Penderita gangguan bipolar memiliki risiko tinggi untuk melakukan tindakan bunuh diri bila tidak menerima pengobatan yang tepat. Sebanyak hampir 75 persen pria penderita depresi melakukan tindakan bunuh diri, sedangkan pada wanita risiko bunuh diri jadi 2 kali lebih besar dibandingkan dengan pria.

2. Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat, dimana penderita menginterpretasi realita secara abnormal. Gangguan kejiwaan ini dapat menyebabkan gejala halusinasi, delusi, serta pola pikir dan perilaku yang dapat mengganggu fungsi sehari-hari. Skizofrenia adalah kondisi jangka panjang yang membutuhkan penanganan seumur hidup.

Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan tahun 2007 di National Library of Medicine National Institute of Health, Amerika Serikat, skizofrenia telah lama dihubungkan dengan peningkatan risiko percobaan bunuh diri.

Bunuh diri bisa dikatakan sebagai penyebab utama kematian utama pada penderita skizofrenia. Beberapa penelitian mengindikasikan kisaran 5-13 persen pasien mati karena bunuh diri, bahkan kemungkinan besar lebih tinggi.

Penderita skizofrenia berisiko lebih tinggi untuk melakukan usaha bunuh diri, hingga 8 kali lipat. Selain itu, para penderita skizofrenia juga diketahui memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kematian akibat penyakit seperti gangguan pernapasan.

3. Anoreksia

Menurut dr. Melyarna Putri dari KlikDokter, anoreksia adalah sebuah gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan yang dianggapnya sehat. Penderita juga mengalami rasa takut yang berlebihan terhadap peningkatan berat badan akibat pencitraan diri yang menyimpang.

Pencitraan diri pada penderita anorexia nervosa dipengaruhi oleh pola penyimpangan dalam menilai suatu situasi. Kondisi ini memengaruhi cara seseorang dalam berpikir serta mengevaluasi tubuh dan makanannya.

Perlu diketahui bahwa gangguan makan termasuk salah satu gangguan mental. Di dalam kelompok gangguan makan, terdapat sejumlah kondisi berikut ini:

-Anorexia nervosa (anoreksia atau menjauhi makanan)

-Bulimia nervosa (memuntahkan makanan)

-Binge-eating disorder (kalap makan)

-Compulsive overeating (lapar mata)

-Emotional eating (lapar hati)

-Yoyo syndrome (berat badan turun-naik)

-Social eater (dorongan makan muncul saat bersama dengan orang lain)

Para peneliti menemukan bahwa angka kematian pada gangguan makan, terutama anorexia nervosa, lebih tinggi daripada beberapa gangguan jiwa lainnya, seperti skizofrenia dan depresi. Selain itu, faktor dari timbulnya gangguan makan bisa merupakan faktor gabungan yang pada akhirnya mengakibatkan anorexia nervosa berakhir pada kematian.

4. Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

PTSD adalah gangguan mental yang dapat terjadi setelah seseorang mengalami kejadian yang traumatis seperti pelecehan seksual, perang, bencana alam, serangan teroris, kecelakaan berat, dan lain-lain. Tak semua orang yang mengalami kejadian traumatis akan mengalami PTSD. Tapi ada beberapa kejadian yang memberikan kecenderungan PTSD, seperti pelecehan seksual dan kekerasan pada masa kanak-kanak.

PTSD memiliki prevalensi seumur hidup, antara 8-10 persen, dan diikuti dengan ketidakmampuan berfungsi dalam sosial. Dalam situasi perang, prevalensi individu yang mengalami PTSD meningkat hingga 30 persen. Selain itu, wanita berisiko lebih tinggi mengalami PTSD dibandingkan pria. Hal ini karena pelecehan seksual lebih banyak dialami wanita.

Biasanya penderita pernah mengalami atau menyaksikan kejadian traumatis, bahkan yang mengancam nyawa. Selain itu juga mengalami kejadian-kejadian yang sama terus-menerus dengan berbagai persepsi, bisa berupa penglihatan, mimpi, ilusi, halusinasi, atau kilas balik.

Jika tidak ditangani dengan tepat, PTSD dapat menimbulkan komplikasi berupa gangguan jiwa berat seperti skizofrenia ataupun percobaan bunuh diri. Hal lain yang bisa ditimbulkan ialah gangguan tidur menetap ataupun penghargaan diri yang rendah. Pada akhirnya hal ini dapat memicu berbagai gejala psikosis atau gangguan kejiwaan lainnya yang dapat berakhir pada kematian.

5. Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

OCD adalah gangguan perilaku kronis yang menyebabkan penderita tidak punya kontrol atas pikiran-pikiran obsesif dan perilaku kompulsif atau berulang-ulang. Gangguan ini pernah dikategorikan dalam gangguan kecemasan, tapi sekarang telah menjadi kategori sendiri.

Tak semua paham benar apa itu OCD. Kebanyakan beranggapan bahwa penderita adalah mereka yang gila kebersihan dan keteraturan, sering kali mengulang-ulang kegiatan tertentu untuk memastikan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Sebetulnya anggapan ini tidak salah, tapi cakupan OCD lebih luas dari itu.

Tak hanya kontaminasi bakteri atau kuman yang menjadi obsesi penderita OCD, situs web Medscape menyebutkan bentuk-bentuk obsesi lainnya. Menurut situs tersebut, hal-hal yang menjadi obsesi seperti keselamatan, keraguan terhadap memori atau persepsi seseorang, ketakutan akan melanggar aturan, kebutuhan mengatur sesuatu secara simetris, serta pikiran seksual yang mengganggu dan tak diharapkan.

Bentuk kompulsif yang sering ditemukan adalah membersihkan diri, mengecek, menghitung, mengatur objek, menyentuh sesuatu, mengumpulkan benda tertentu, serta membuat daftar. Semua ini biasanya dilakukan secara berulang-ulang untuk meredakan kecemasan atau obsesi yang muncul.

Jika tidak ditangani, perasaan tertekan dapat bertambah parah dan membuat penderita makin sulit untuk mengendalikan OCD, sehingga dapat berujung pada depresi. Tingkat depresi yang parah dapat memicu timbulnya dorongan untuk bunuh diri. (*)

Redaksi: redaksi@dokterkecil.com
Informasi Pemasangan Iklan: iklan@dokterkecil.com
Info Kesehatan: Memahami 5 Gangguan Mental yang Serius dan Berbahaya