16/09/2022 11:50:47
Info Kesehatan

Mengenal Senyawa BPA di Wadah Plastik Kemasan dan Bahayanya untuk Kesehatan

Foto: Ilustasi/Dokcil

Senyawa Bisphenol A (BPA) biasanya terdapat pada wadah plastik baik untuk makanan dan minuman. Senyawa BPA ini bisa luruh dan mengontaminasi makanan dan minuman sehingga dapat membahayakan kesehatan. Seperti apa?

Bahaya senyawa BPA pada wadah plastik makanan dan minuman, sudah menjadi perhatian berbagai pihak. Bahkan, para pakar hingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus menyuarakan peringatan akan bahawa senyawa kimia ini.

Dokter spesialis anak sekaligus anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Irfan Dzakir Nugroho mengatakan paparan BPA jika masuk ke dalam tubuh maka dapat mengganggu sistem kerja dan fungsi hormon. Khususnya hormon estrogen, androgen, dan tiroid.

"Kontaminasi BPA dapat membahayakan ibu hamil, karena mengganggu kerja endokrin, dan mampu meniru hormon estrogen," katanya dalam keterangan tertulis seperti dikutip dari detikcom.

Tak hanya ibu hamil saja, Irfan menyebut kontaminasi BPA juga berbahaya bagi bayi dan anak-anak. Berdasarkan laporan yang terbit pada 2008 oleh Program Toksikologi Nasional AS, disimpulkan adanya efek pada otak, perilaku, dan kelenjar prostat pada janin, bayi serta anak-anak akibat paparan BPA. Adapun senyawa kimia tersebut bisa masuk melalui plasenta, ASI, pemberian susu botol, dan pemberian makanan atau minuman yang telah terkontaminasi BPA.

"Dampak BPA bukan hanya pada bayi, BPA juga dapat menimbulkan bahaya pada kelompok usia anak-anak, di antaranya menyebabkan gangguan tumbuh kembang, perilaku depresif, ansietas, dan hiperaktif," jelasnya.

Selain itu, kata dia, paparan BPA yang berlebihan juga dapat memicu gangguan homeostasis metabolik pada anak, serta mengganggu struktur dan fungsi otak, bahkan memberikan efek kesehatan negatif di usia selanjutnya.

Apa itu plastik BPA?

Melansir hellosehat,  adalah salah satu bahan kimia yang ditambahkan ke banyak produk komersial, termasuk wadah makanan dan produk kebersihan. BPA banyak pada sejumlah produk air kemasan dalam minuman maupun makanan sehari-hari, termasuk AMDK galon polikarbonat.

BPA pertama kali ditemukan pada 1890-an, tetapi ahli kimia pada 1950-an menyadari bahwa ini dapat dicampur dengan senyawa lain untuk menghasilkan plastik polikarbonat yang kuat dan tangguh.

Sekarang ini, plastik yang mengandung BPA biasanya digunakan dalam wadah makanan, botol minum atau botol susu bayi dan barang lainnya. BPA juga digunakan untuk membuat resin epoxy, yang diletakkan di lapisan dalam wadah makanan kaleng untuk menjaga agar logam tidak berkarat dan pecah

Meski begitu, sekarang banyak produsen yang beralih ke produk bebas BPA, di mana BPA telah digantikan oleh bisphenol-S (BPS) atau bisphenol-F (BPF).

Namun, penelitian terbaru melaporkan bahwa bahkan konsentrasi kecil BPS dan BPF dapat mengganggu fungsi sel Anda dengan cara yang mirip dengan BPA. Dengan demikian, botol yang bebas BPA pun mungkin bukan solusi.

Barang-barang plastik yang diberi label dengan nomor daur ulang 3 dan 7 atau huruf “PC” kemungkinan mengandung BPA, BPS atau BPF.

Sumber BPA terbesar bagi manusia adalah pola makan, terutama makanan yang dikemas dalam wadah plastik dan makanan kaleng Bayi yang diberi susu formula dari botol yang mengandung BPA juga memiliki kadar BPA yang tinggi dalam tubuhnya. Banyak peneliti yang mengklaim bahwa plastik BPA berbahaya, tapi beberapa peneliti lain tidak setuju.

BPA dikatakan meniru struktur dan fungsi hormon estrogen. Karena bentuknya yang menyerupai estrogen, BPA dapat dikaitkan dengan reseptor estrogen dan memengaruhi proses tubuh, seperti pertumbuhan, perbaikan sel, perkembangan janin, tingkat energi, dan reproduksi.

Selain itu, BPA juga mungkin memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan reseptor hormon lain, seperti reseptor hormon tiroid, sehingga mengubah fungsi hormon tersebut. (*)

Redaksi: redaksi@dokterkecil.com
Informasi Pemasangan Iklan: iklan@dokterkecil.com
Info Kesehatan: Mengenal Senyawa BPA di Wadah Plastik Kemasan dan Bahayanya untuk Kesehatan