30/03/2015 11:18:14
Info Kesehatan

Struk Belanja Ternyata Sumber Penyakit

Penelitian di AS mendapati struk belanja mengandung bahan kimia berbahaya bisphenol A (BPA). Bahan kimia tersebut telah dikaitkan dengan daftar panjang masalah kesehatan yang serius.

BPA digunakan untuk melapisi kertas termal, yang bereaksi dengan pewarna untuk membentuk cetak hitam pada struk yang ditandatangani jutaan orang AS setiap hari.

Dalam tes laboratorium, bahan kimia tersebut telah dikaitkan dengan daftar panjang masalah kesehatan yang serius pada hewan. Beberapa aktivis lingkungan, termasuk Senator Dianne Feinstein, D-Calif juga telah menyerukan menghapus BPA dari produk kalengan.

Konsumen terpapar BPA saat penjual menyerahkan kuitansi, kata ilmuwan senior Dr Anila Jacob seperti dikutip dari AOL News. Struk ini menumpuk di dompet, atau tas belanja dan bercampur dengan makanan dan produk lainnya. Ketika di tangan, slip kertas termal itu dengan mudah dapat mencemari jari-jari, yang kemudian ke mulut atau kulit.

Tes usap yang dilakukan peneliti EWG, BPA dengan mudah dapat dihapus dari struk sample. Hal itu menunjukkan bahwa bahan kimia tersebut bisa menular pada tangan orang yang memegang kertas. Kertas diaktifkan panas yang diuji mengandung sebanyak 3 persen BPA murni dari beratnya.

Tapi apakah hal itu berbahaya bagi manusia? EWG, sebuah organisasi nirlaba nasional AS, sedang melakukan studi tambahan untuk menentukan apakah BPA dapat memasuki tubuh.

Namun, Sandra Biedermann ilmuwan Swiss dan rekan-rekannya dari Otoritas Makanan Zurich melaporkan bahwa BPA dari struk belanja dapat masuk ke kulit dan tidak bisa dicuci.

Temuan itu meningkatkan kemungkinan bahwa bahan kimia tersebut merembes ke lapisan kulit yang lebih rendah untuk masuk aliran darah secara langsung. Namun, para ilmuwan tidak mendeteksi adanya jejak BPA dari struk Starbucks, ATM beberapa bank dan perusahaan lain.

Sebanyak 60 persen struk yang diuji EWG tidak mengandung BPA, mudah mengetahui pengecer yang masih menggunakan kertas mengandung bahan kimia.

Selama hampir dua tahun, ahli kesehatan masyarakat dan ahli lingkungan telah mendorong untuk mengurangi paparan BPA, terutama dalam kaleng untuk makanan olahan, botol bayi dan susu formula.

Dalam tes hewan, ilmuwan telah mendapatkan bukti bahwa BPA dapat memicu pengembangan sistem reproduksi abnormal, penurunan kapasitas intelektual dan kelainan perilaku.

Selain itu dapat menyebabkan kondisi serius lainnya, seperti kanker sistem reproduksi, obesitas, diabetes, pubertas dini, resistensi terhadap kemoterapi, asma dan gangguan sistem kardiovaskular.

Kontak dengan BPA juga dapat menyebabkan perubahan epigenetik, yang berarti perubahan pada gen yang mematikan. Selain itu perubahan genetik dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Kertas kuitansi yang mengandung BPA jelas merupakan keprihatinan bagi pembeli. Tetapi lebih dari itu jutaan orang yang bekerja sebagai kasir bisa terancam. Para peneliti Swiss melaporkan bahwa seseorang bisa menyentuh kertas printer termal selama 10 jam sehari dan 42 kali terkena paparan harian melebihi toleransi.

Statistik dari Centers for Disease Control and Prevention menunjukkan bahwa pekerja ritel rata-rata 30 persen lebih banyak membawa BPA di tubuh mereka daripada orang dewasa lainnya.

Jangan Pakai Hand Sanitiser Setelah Pegang Struk Belanja

Malas dan repot cuci tangan dengan air dan sabun, sebagian orang beralih memakai hand sanitiser untuk membersihkan kedua tangannya. Akan tetapi penggunaan hand sanitiser tidak selamanya aman, apalagi ketika Anda berbelanja.

Apa hubungannya? Sebuah penelitian terbaru menemukan orang yang memakai hand sanitiser setelah memegang struk belanjaan akan lebih banyak terpapar BPA.

Perlu sobat Dokcil ketahui, BPA merupakan senyawa kimia yang biasanya terkandung dalam botol plastik atau kemasan styrofoam yang dapat merusak hormon tubuh. Dan ternyata BPA juga dapat ditemukan di kertas struk belanjaan.

Kemudian meminta sejumlah sukarelawan untuk mengoleskan hand sanitiser ke tangannya, lalu memegang sebuah struk belanjaan selama beberapa menit.

Setelah itu, kadar BPA di kedua tangan masing-masing sukarelawan dicek. Ini untuk mencari perbedaan kadar BPA pada tangan yang memegang struk dan yang tidak. Ada juga yang diminta memberikan sampel urine atau sampel darah dari masing-masing tangan.

Tak hanya itu, sebagian sukarelawan yang memakai hand sanitiser tadi diminta memegang satu keripik panas selama 10 detik. Lantas keripik tadi ada yang dites kandungan BPA-nya dan ada juga yang diminta untuk dimakan.

Peneliti pun dibuat kaget karena nyatanya BPA yang ada di struk belanjaan tersebut dapat berpindah dengan mudah dari tangan ke makanan.

Bahkan BPA-nya tak hanya berpindah ke makanan yang kita pegang, melainkan juga meresap masuk ke dalam tubuh lewat kulit hingga masuk ke usus.

Telah ditemukan adanya peningkatan kadar BPA yang signifikan pada tubuh orang-orang ini ketika mereka makan setelah memakai hand sanitizer.

Kandungan BPA di urine dan darah sukarelawan pun meningkat tajam hanya dalam kurun 90 menit setelah mereka memegang struk dan makan keripik. Peneliti juga mengatakan risiko ini berlaku untuk siapapun, tak peduli pria maupun wanita.

Perlu diketahui bahwa sama halnya dengan produk perawatan kulit lainnya, hand sanitiser juga mengandung bahan-bahan kimiawi yang mampu meningkatkan penetrasi BPA ke dalam kulit hingga lebih dari 100 kali lipat.

Padahal BPA ini telah terbukti dapat menyebabkan janin dan bayi lahir cacat, terutama di organ reproduksinya. Termasuk risiko kanker hingga gangguan kekebalan dan metabolik pada hewan sekalipun.

 

 

Dikutip dari berbagai sumber.

Redaksi: redaksi@dokterkecil.com
Informasi Pemasangan Iklan: iklan@dokterkecil.com
Info Kesehatan: Struk Belanja Ternyata Sumber Penyakit