14/03/2019 11:35:38
Info Kesehatan

Tidur Anak Tidak Teratur Pengaruhi Kinerja Otak

Tak jarang orang tua membolehkan anaknya tidur lebih larut saat akhir pekan mengingat esoknya adalah hari libur. Aturan ini pun bahkan ’’dihalalkan’’ lebih lama saat musim libur panjang tiba. Akan tetapi, tanpa disadari hal ini justru membawa dampak tidak baik bagi anak-anak karena bisa menjadi awal untuk mereka memiliki kebiasaan tidur malam yang tidak teratur. 

Sebuah penelitian yang dilakukan University College London menemukan fakta bahwa memiliki kebiasaan tidur yang tidak teratur dapat memengaruhi kinerja otak anak-anak. Penelitian yang dipimpin oleh Prof Amanda Sacker tersebut menyatakan, anak-anak dengan jadwal tidur yang tidak teratur biasanya merefleksikan keadaan keluarga yang kacau.

Jadwal tidur yang tidak teratur itu akan berdampak pada kemampuan kognitif anak. Studi mengenai kebiasaan tidur dan kemampuan otak anak-anak ini melibatkan lebih dari 11.000 anak-anak yang berusia tujuh tahun.

Anak-anak yang tidak memiliki kebiasaan tidur yang teratur atau yang tidur di atas pukul 21.00 memiliki skor yang rendah dalam membaca dan matematika. Kurang tidur kemungkinan akan mengganggu ritme tubuh dan menghambat otak untuk mempelajari informasi baru, seperti yang ditulis dalam penelitian tersebut.

Jika kita melihat kebiasaan di Indonesia, pada jam 10 malam masih banyak anak kecil yang malang melintang (berjalan-jalan) di mal dengan orang tua meski besoknya bukanlah hari libur. Bila dibandingkan dengan luar negeri, biasanya anak-anak sudah tertidur sejak jam 7.00 – 20.00 WIB. Mungkin agak berbeda dengan kita, karena ketika kita ingin tidur jam 9.00 WIB, mungkin akan terasa canggung dan sedikit aneh karena tidak terbiasa.

Sebenarnya tidur adalah persyaratan penting bagi seorang anak, meski mereka sendiri menyangkalnya. Ya, masing-masing anak mungkin akan menahannya dan tidak mau tidur. Tapi sebagai orang tua, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan tentang tidur dan waktu rutin yang perlu ditetapkan untuk mereka.

Dampak Negatif Tidur Larut Malam

Menurut studi sains, berikut beberapa alasan yang mendukung tindakan orang tua untuk memelihara kebiasaan anak tidur secara rutin serta lebih awal setiap harinya.

a. Risiko Obesitas

Melalui Journal of Pediatrics, ada bukti bahwa anak-anak pra-sekolah dini cenderung mengalami obesitas saat mencapai usia remaja. Padahal, kemungkinan anak-anak obesitas diperkirakan akan 50 persen lebih tinggi untuk anak yang tidurnya telat (larut malam).

Menurut Kepala Penelitian Sarah Anderson, ada dua alasan utama mengapa hal ini bisa terjadi. Pertama, anak yang tidur nyenyak biasanya kurang tidur. Bila kurang tidur, terjadi perubahan hormon yang mengatur rasa dan metabolisme tubuh.

Ke-dua, anak-anak yang terlambat tidur lebih cenderung mengonsumsi makanan ringan, terutama saat mereka menonton televisi mengiklankan berbagai makanan. Oleh karena itu, rutinitas tidur dini ini merupakan faktor penting dalam memastikan kesehatan jangka panjang.

b. Hiperaktif, Mudah Mengamuk

Tahukah Anda bahwa anak-anak yang mengantuk tidak menunjukkan tanda-tanda kantuk seperti orang dewasa. Di sisi lain, mereka bisa menunjukkan gejala hiperaktif atau ADHD, terutama saat mereka tidur telat. Seperti yang dijelaskan oleh National Sleep Foundation , ini semua terjadi karena si kecil sudah terlalu lelah.

Menurut situs sleep.org , mungkin ada orang yang mengira anak-anak yang sedang tidur ini masih akan cukup tidur jika terlambat bangun tidur. Tapi jika diperhatikan, anak kecil lebih suka bangun pagi bahkan jika mereka tidur telat. Jadi, belum tentu cara ini akan membantu anak mendapatkan cukup tidur, bahkan bisa menyebabkan anak menjadi moody dan mudah marah saat bangun tidur.

Rutinitas yang konsisten dan waktu tidur dini membantu memberi anak rasa aman. Waktu yang konsisten ini juga memberi isyarat kepada pikiran dan tubuh agar siap tidur. Secara tidak langsung, mereka akan lebih mudah. Saat mereka tidur inilah produksi hormon melatonin yang akan diproduksi secara alami, di mana hal itu membantu anak merasa lebih tenang. Jika proses ini terganggu, mereka cenderung kurang tidur yang berkualitas.

d. Memengaruhi Kecerdasan Otak

Tidur dan kualitas yang cukup penting untuk memperbaiki tubuh dan pikiran seseorang, termasuk anak kecil. Dalam sebuah eksperimen yang dilaporkan oleh Journal of Pediatric Psychology, 32 anak berusia 8 sampai 12 tahun diarahkan untuk tidur 1 jam lebih awal dan 1 jam kemudian dari biasanya. Setelah seminggu, kinerja mereka dalam matematika, memori, dan emosi akan dievaluasi. Akibatnya, ketika mereka tidur lebih dari satu jam, gangguan terjadi pada tes.

e. Bentuk Siklus Negatif

Siklus negatif bisa terbentuk saat anak kurang tidur. Anak berisiko terkena masalah depresi dan kecemasan. Serta timbul gejala: anak emosional, mudah lelah, sering mual, sering khawatir berlebihan, dan anak merasa sedih.

Dikhawatirkan mungkin rasa ketakutan bersarang di dalam pikirannya. Saat mereka depresi, mereka akan memiliki masalah dalam mengatur emosi, stres, dan kesusahan. Semua gejala ini akan menyulitkan mereka untuk tidur keesokan harinya, dan seterusnya.

Seorang ahli meninjau kembali, anak yang mengantuk ini biasanya terlalu mengantuk dan akan tertidur tanpa rutinitas yang tepat. Ini berarti mereka tidak memiliki kesempatan untuk melatih diri untuk tidur sendiri. Alhasil, jika mereka terbangun di tengah malam, anak ini tidak pandai tertidur kembali tanpa bantuan orang tua. Hal ini karena beberapa anak selalu terbangun dan merengek pada malam hari. (*)

 

*Dari berbagai sumber

Redaksi: redaksi@dokterkecil.com
Informasi Pemasangan Iklan: iklan@dokterkecil.com
Info Kesehatan: Tidur Anak Tidak Teratur Pengaruhi Kinerja Otak