26/03/2019 15:21:17
Info Kesehatan

Fenomena Equinox Berpotensi Sun Stroke, Ini yang Harus Dilakukan

Dalam beberapa hari terakhir, berkembang berita akan adanya fenomena Equinox yang bisa berakibat sunstroke dan dehidrasi karena meningkatnya suhu secara ekstrem. Benarkah demikian? Seperti apa fenomena ini sebenarnya?

Pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) langsung meluruskan berita tersebut. Menurut Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo, equinox adalah salah satu fenomena astronomi di mana matahari melintasi garis khatulistiwa. Fenomena ini secara periodik berlangsung dua kali dalam setahun, yakni pada 21 Maret dan 23 September.

Prabowo menjelaskan saat fenomena ini berlangsung, matahari dengan bumi memiliki jarak paling dekat konsekuensinya wilayah tropis sekitar ekuator akan mendapatkan penyinaran matahari maksimum. Akan tetapi, fenomena ini tidak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis maupun ekstrem.

’’Secara umum, diketahui rata-rata suhu maksimum di wilayah Indonesia berada dalam kisaran 32-36 derajat celcius,’’ ujar Prabowo dalam siaran persnya, Senin (25/3).

Berdasarkan pengamatan BMKG, suhu maksimum tertinggi di Indonesia terjadi pada Sabtu 23 Maret 2019 di Meulaboh, Aceh Barat, yakni mencapai 36 derajat celcius.

’’Equinox bukan merupakan fenomena seperti gelombang panas atau heat wave yang terjadi di Eropa, Afrika, dan Amerika yang merupakan kejadian peningkatan suhu udara ekstrem di luar kebiasaan, dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama,’’ kata Prabowo.

Prabowo mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu mengkhawatirkan dampak dari equinox sebagaimana disebutkan dalam isu yang berkembang. Sebab, secara umum kondisi cuaca di wilayah Indonesia cenderung masih lembab atau basah.

Dikatakan, sejumlah wilayah Indonesia yang masuk dalam garis khatulistiwa, saat ini tengah memasuki periode equinox atau kondisi di mana matahari tepat melintasi garis khatulistiwa. Karena itu, masyarakat diminta tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan tetap menjaga kesehatan keluarga serta lingkungan.

Kepala BMKG Berau Tekad Sumardi mengatakan, periode ini terjadi dalam rentan waktu 22 hingga 28 Maret 2019 dan merupakan siklus dua tahunan.  ’’Jadi kami menyarankan jangan lupa meminum lebih banyak air, dan makan banyak buah. Serta kalau bisa mengurangi aktivitas di luar rumah selama Equinox,” katanya, Selasa (26/3).

Karena kondisi tersebut, suhu udara pun meningkat atau naik beberapa derajat sehingga masyarakat yang lebih sering beraktivitas di luar rumah berpotensi terkena dehidrasi atau sun stroke. ’’Tapi masih cenderung aman. Cuacanya saja yang sangat panas dengan kelembapan udara rendah,’’ sebutnya.

Salah satu fenomena alam ini juga diterangkannya, selain terjadi setiap dua tahun yang terjadi pada Maret dan September. ’’Terakhir Maret 2017. Lalu terjadi lagi di akhir Maret tahun ini,” ujarnya.

’’Di luar negeri, equinox ini dikenal dengan istilah hari tanpa bayangan, karena matahari tepat melintasi garis khatulistiwa. Di mana, equinox itu berarti tidak ada perbedaan siang dengan malam,” tambahnya.

Sumardi menambahkan, kondisi ini harus menjadi perhatian masyarakat yang kerap membuka lahan dengan cara membakar. Pasalnya, dengan naiknya suhu udara akan berpotensi meningkatnya peristiwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

’’Terpenting, berhati-hati terhadap api saat membuka lahan. Begitu pun saat membuang puntung rokok harus dipastikan apinya telah mati. Apabila melakukan pembakaran misalnya sampah agar dijaga,’’ ucapnya.

 

 

*Dari berbagai sumber

Redaksi: redaksi@dokterkecil.com
Informasi Pemasangan Iklan: iklan@dokterkecil.com
Info Kesehatan: Fenomena Equinox Berpotensi Sun Stroke, Ini yang Harus Dilakukan