17/06/2019 10:19:20
Info Kesehatan

Katarak, Penyakit Degeneratif yang Bisa Menyerang Anak-Anak

Walau lebih dikenal sebagai penyakit degeneratif dan lebih banyak menyerang di saat usia lanjut, namun katarak juga dapat menyerang anak karena berbagai sebab. Bayi yang lahir prematur, ibu terkena rubella atau toksoplasma akan memperbesar kemungkinan bayi yang lahir memiliki gejala katarak.

Gejala katarak pada anak dapat dideteksi sejak dini. Gejala yang mungkin terlihat pada adalah jika mata anak terlihat seperti ada keputihan di pupil, bola mata tampak tidak seimbang atau anak mudah silau saat terkena sinar matahari. Jika menemukan salah satu gejala diatas, segera konsultasi dengan dokter mata sedini mungkin untuk mencegah kerusakan mata lebih lanjut atau kebutaan.

Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut maka katarak pada anak bisa dihilangkan dengan operasi.

’’Pada pasien anak, prosedur operasi katarak menjadi lebih komplek dibandingkan pasien dewasa dan lanjut usia, sehingga prosedur operasi dilakukan dengan anastesi umum untuk menjamin kelancaran dan kenyamanan operasi,” kata Dr. Ni Retno Setyoningrum, SpM(K), MMedEdu, spesialis Oftalmologi Pedriatik dan Strabismus, seperti dikutip dari sebuah situs kesehatan.

’’Pasien juga harus menjalani pemeriksaan pra-operasi terlebih dahulu, yang meliputi kondisi awal sebelum operasi, perlu tidaknya ditanam lensa intraokular sampai dengan pemeriksaan kondisi keseluruhan pasien agar benar-benar siap menjalani operasi katarak,” ujarnya melanjutkan.

Setelah operasi, pasien anak perlu melakukan terapi amplyopia. Terapi ini untuk membiasakan pasien anak dengan kondisi mata yang baru. Tentu dukungan dan perhatian dari orang-orang terdekat anak juga akan membantu banyak proses penyembuhan. Konsultasikan dengan dokter di JEC mengenai proses terapi yang paling cocok untuk kondisi anak.

Lebih dari 50 persen gangguan pengelihatan dan kebutaan di Indonesia dan dunia disebabkan akibat katarak atau kekeruhan lensa mata. Hal ini karena proses degeneratif yang sangat dipengaruhi oleh faktor usia, sehingga kasusnya meningkat terus seiring dengan meningkatnya warga lanjut usia.

Menurut riset tahun 2010, World Health Organization (WHO) memperkirakan terdapat 285 juta orang di seluruh dunia yang mengalami gangguan pengelihatan dan low vision, yang sebagian besar (90 persen) berada di negara berkembang, seperti Indonesia.

Meski secara umum faktor utama munculnya katarak adalah karena proses degeneratif atau bertambahnya usia, namun ada pula katarak yang disebabkan akibat trauma atau cedera pada mata. Kemudian penyakit atau gangguan metabolisme, paparan langsung sinar radiasi dan sinar UV dalam waktu lama, penggunaan obat dalam jangka panjang atau karena faktor genetik.

Dokter spesialis mata, Dr. Ni Retno Setyoningrum, SpM (K) menjelaskan, dalam beberapa kasus katarak bisa diderita oleh bayi dan anak-anak. Faktor penyebabnya antara lain karena terjadi infeksi atau malnutrisi ketika bayi berada dalam kandungan. Bayi yang lahir prematur, ibu terkena rubella atau toksoplasma akan meningkatkan kemungkinan bayi yang lahir memiliki gejala katarak.

Gejala katarak pada anak dapat dideteksi sejak dini. Misalnya jika mata anak terlihat ada keputihan di pupil, bola mata tampak tidak seimbang atau anak mudah silau saat terkena sinar matahari.

’’Katarak pada anak akan semakin menganggu seiring perkembangan usia anak, sehingga perlu dilakukan tindakan operasi katarak sedini mungkin untuk mengembalikan fungsi pengelihatan agar tidak memepengaruhi perkembangan anak," kata dokter Ni.

’’Katarak masuk dalam kategori gangguan mata yang dapat dipulihkan dengan tindakan operasi. Pada pasien bayi yang menderita katarak, tindakan operasi disarankan berlangsung padan rentang usia 2 bulan sampai 4 bulan. Semakin cepat melepas katarak pada bayi, semakin baik dampaknya pada fungsi pengelihatan jangka panjang,’’ tuturnya.

Sebelum pelaksanaan operasi, sambung dokter yang juga Ketua Layanan Children Eye & Squint Clinic JEC Kedoya, pasien anak harus menjalani pemeriksaan pra-operasi terlebih dahulu, yang meliputi kondisi awal sebelum operasi, perlu atau tidaknya lensa intraokular sampai dengan pemeriksaan kondisi kesehatan secara menyeluruh, guna mamastikan anak telah siap menjalani operasi katarak. Setelah pelaksanaan operasi, pasien anak perlu melakukan terapi amblyopia. (*)

 

*Dari berbagai sumber

Redaksi: redaksi@dokterkecil.com
Informasi Pemasangan Iklan: iklan@dokterkecil.com
Info Kesehatan: Katarak, Penyakit Degeneratif yang Bisa Menyerang Anak-Anak