04/07/2019 10:17:58
Info Kesehatan

Anak Alergi Telur? Ini Dia Penyebabnya!

Ada banyak ragam alergi makanan yang kerap terjadi pada manusia, baik orang dewasa maupun anak-anak. Telur menjadi salah satu makanan yang paling sering memicu alergi, terutama pada anak-anak.

Sekitar 20 persen anak di usia satu tahun pertama pernah mengalami reaksi dari makanan yang diberikan, termasuk reaksi alergi. Menurut Dr. dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K), Konsultan Alergi-Imunologi Anak angka kejadian alergi makanan dalam dekade terakhir ini tampaknya meningkat.

Zakiudin juga mengatakan, makanan yang paling sering menimbulkan alergi antara lain susu sapi atau kambing, telur, kacang-kacangan, ikan laut, kedelai, dan gandum. Nah, telur ayam merupakan alergen yang sering memengaruhi anak-anak, terutama yang memiliki dermatitis atopik.

’’Kuning telur dianggap kurang alergenik daripada putih telur. Putih telur mengandung sekitar 23 glikoprotein dan yang merupakan alergen utama adalah ovalbumin, ovomucoid, dan ovotransferrin,’’ kata Zakiudin dalam bukunya yang berjudul ’’Mengenal Alergi pada Anak’’.

Zakiudin bilang, anak yang alergi telur belum tentu alergi daging atau bulu ayam. Meski demikian, reaksi alergi bisa timbul apabila anak diberi vaksin yang ditanam pada kuning telur seperti vaksin campak.

’’Antibodi IgE spesifik terhadap putih telur terbukti juga mempunyai reaksi silang dengan protein telur jenis unggas lain,’’ katanya.

Berbicara alergi telur, beberapa vaksin ada yang terbuat dari protein telur. Itu sebabnya, orang yang alergi telur berhati-hati ketika vaksinasi. Misalnya saja untuk vaksinasi MMR (Measles, Mumps, Rubella). Vaksin ini dibuat di dalam embrio anak ayam sehingga diperkirakan ada jejak protein telur di dalamnya.

’’Anak-anak yang alergi telur seharusnya tak masalah mendapat vaksin MMR. Sampai saat ini, belum ada laporan bahwa anak dengan alergi telur dan mendapat vaksin MMR kemudian mengalami masalah,’’ kata dr. Dawn Lim, dokter anak yang fokus di bidang alergi, dalam bukunya ’’Childhood Allergies’’.

Alergi telur adalah reaksi tidak biasa dari sistem imunitas tubuh . Saat seseorang mengonsumsi telur atau makanan yang mengandung telur, sistem imunitas tubuh menduga protein telur dalam makanan tersebut sebagai zat berbahaya, sehingga tubuh melepaskan zat histamin sebagai upaya perlindungan tubuh dalam mengatasi serangan tersebut. Reaksi tubuh seperti itu disebut sebagai reaksi alergi.

Reaksi alergi telur biasanya muncul beberapa menit atau beberapa jam setelah mengonsumsi atau terpapar makanan yang mengandung telur. Gejala yang muncul mulai dari ringan (ruam kulit atau hidung tersumbat) hingga berat, seperti muntah dan gangguan pencernaan. Meski demikian, alergi telur jarang menyebabkan reaksi alergi yang dapat membahayakan nyawa (anafilaksis).

Faktor penyebab

Alergi telur terjadi karena sistem imunitas tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap telur atau makanan mengandung telur yang sebetulnya tidak berbahaya bagi tubuh. Sistem imunitas tubuh menganggap protein dalam telur sebagai zat berbahaya, sehingga merespons dengan melepaskan zat histamin untuk melindungi tubuh.

Contoh makanan yang mengandung telur, antara lain adalah roti, permen, krim, saus salad, berbagai makanan yang digoreng dengan lapisan tepung, dan mayones. Sedangkan bahan non makanan yang mengandung telur, antara lain adalah sampo, vaksin, serta bahan riasan wajah. Alergen atau zat yang menimbulkan alergi pada telur bisa berasal dari protein dalam kuning atau putih telur. Namun, sebagian besar penderita mengalami alergi terhadap putih telur.

Umumnya alergi telur terjadi pada anak-anak. Alergi telur menjadi reaksi yang sangat mengganggu pada anak yang berusia 6 hingga 15 bulan. Bayi yang masih menyusu pada ibunya juga bisa mengalami alergi terhadap protein telur yang dikonsumsi ibunya. Sedangkan pada orang dewasa, alergi telur jarang sekali terjadi. Saat menjelang masa remaja atau ketika sistem pencernaan lebih matang, reaksi alergi terhadap telur sudah lebih jarang terjadi.

Selain usia, risiko alergi telur juga lebih besar dialami pada orang yang memiliki orang tua dengan riwayat alergi makanan atau penyakit asma, dan mengalami eksim atopic karena saat mengalami reaksi kulit seperti ini maka seseorang lebih berisiko terkena alergi makanan, termasuk alergi telur.

Reaksi alergi telur bervariasi pada tiap penderita, dan biasanya terjadi tidak lama setelah mengonsumsi atau terpapar bahan yang mengandung telur. Gejala yang timbul berupa gejala ringan, sedang, hingga parah.

Gejala ringan dan sedang biasanya akan muncul biduran (hives), bibir atau kelopak mata bengkak, mata terasa gatal atau berair, telinga atau tenggorokan terasa gatal, hidung tersumbat, hidung mengeluarkan lendir, atau bersin-bersin, batuk, sesak napas, atau napas berbunyi (mengi), gangguan pencernaan, seperti kram perut, mual, serta muntah.

Sementara reaksi alergi telur parah atau anafilaksis yang membahayakan nyawa ditunjukkan dengan gejala nadi berdenyut cepat, sulit bernapas karena ada benjolan atau pembengkakan di tenggorokan sehingga saluran udara terhambat, perut terasa nyeri dan kram, syok yang ditandai dengan penurunan tekanan darah secara signifikan, pening atau pusing, serta kehilangan kesadaran. Reaksi alergi parah ini tergolong kondisi darurat yang memerlukan penanganan medis secepatnya. (*)

 

*Dari berbagai sumber

Redaksi: redaksi@dokterkecil.com
Informasi Pemasangan Iklan: iklan@dokterkecil.com
Info Kesehatan: Anak Alergi Telur? Ini Dia Penyebabnya!