23/01/2020 11:02:01
Tren Isu

Berbeda dengan Pneumonia Biasa, Ini Gejala yang Disebabkan Virus Corona

Foto: Daily Express

Wabah virus pneumonia Wuhan yang disebabkan oleh novel coronavirus (nCoV) menyedot perhatian masyarakat dunia. Beberapa negara terutama yang ikut kena dampaknya, juga mulai mengambil langkah antisipasi agar penyebarannya tidak meluas. Seperti apakah gejala pneumonia Wuhan ini? Apakah sama dengan pneumonia biasa?


Menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Anung Sugihantono, pneumonia yang mengarah pada novel coronavirus akan membuat pendritanya mengalami penurunan kondisi kesehatan dengan cepat. Sementara, pneumonia yang umumnya terjadi di Indonesia disebabkan oleh bakteri Streptococcus, Staphylococcus, Legionella, dan lain-lain.

’’Sehingga, penanganan dan pencegahannya pun berbeda dan tak bisa disamakan karena penyebabnya berbeda,’’ kata Anung dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (20/1).

Dari cara penularannya pun tidak sama. Seperti dikutip dari WebMD, pneumonia biasa sangat mudah ditularkan antar-manusia lewat udara seperti saat batuk dan bersin. Virus dan bakteri penyebab pneumonia dapat dengan mudah keluar melalui hidung atau mulut kemudian menginfeksi tubuh yang lain.

Sedangkan virus corona atau coronavirus adalah virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan seperti flu biasa hingga parah seperti SARS atau Severe Acute Respiratory Syndrome dan MERS-CoV. Meski begitu, virus corona berbda dengan SARS dan MERS-CoV, dan termasuk virus jenis baru.

Infeksi virus corona dapat menyebabkan demam, batuk, dan sesak napas sehingga sangat berbahaya pada lansia atau orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah atau sedang terinfeksi penyakit lain. Dalam kasus yang parah, infeksi ini dapat menyebabkan gagal pernapasan dan terkadang gagal ginjal.

Bagaimana cara mengetahui gejala pneumonia Wuhan dan membedakannya dengan pneumonia biasa?

Anung menjelaskan, ada beberapa kriteria yang menunjukkan pneumonia nCoV, di antaranya adalah:

  1. Mengalami infeksi saluram pernapasan akut berat dengan riwayat demam dan batuk serta penyebab yang belum pasti.
  2. Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di Wuhan, Hubei, China, dalam waktu 14 hari ke belakang.
  3. Seseorang yang sakit dengan gejala klinis yang tidak bisa, kemudian terjadi penurunan kondisi umum mendadak meskipun telah menerima pengobatan yang tepat.
  4. Seseorang yang melakukan kontak erat dengan kasus positif terinfeksi nCoV.
  5. Mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan di negara-negara terjangkit nCoV.
  6. Memiliki riwayat kontak dengan hewan atau mengunjungi pasar hewan di Wuhan, China.

Jika ada seseorang yang secara tiba-tiba merasa sesak dan ada riwayat dia dari Wuhan, maka Kemenkes memasukkannya ke dalam kewaspadaan tinggi terhadap novel coronavirus.

’’Namun, jika tidak ada cerita tersebut kita masih melakukan tata pola seperti pneumonia biasanya,’’ ucapnya.

’’Mohon maaf jika tiba-tiba seseorang sesak nafas dan tidak sadarkan diri dalam waktu yang cepat itu kita juga perlu curiga ke arah novel coronavirus,’’ ujar Anung menambahkan.

Vaksin yang beredar

Saat ini, belum ada vaksin untuk virus nCoV. Hal ini wajar mengingat outbreak baru terjadi akhir tahun lalu, sedangkan pembuatan vaksin tentunya memerlukan waktu yang tidak singkat.

’’Vaksinnya belum ada jadi tidak perlu membabibuta minta vaksin,’’ Erlina Burhan dari Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PP PDPI) dalam konferensi pers di Cipinang, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

Adapun vaksin pneumonia yang telah beredar dan direkomendasikan ada tiga jenis. Pertama adalah vaksin PCV13 yang memberikan kekebalan terhadap 13 strain bakteri Streptococcus pneumoniae. Mereka menyebabkan pneumokokus pada masa manusia. Vaksin ini memberikan masa perlindungan sekitar tiga tahun. Biasanya diberikan pada bayi dan anak di bawah dua tahun.

Vaksin ke-dua adalah PPSV23 yang melindungi dari 23 strain bakteri pneumokokus. Produk ini ditujukan untuk kelompok usia yang lebih dewasa seperti di atas 65 tahun, atau usia 2-64 tahun dengan kondisi khusus, seperti sudah lama menderita penyakit tertentu (penyakit jantung, penyakit paru-paru, diabetes, kecanduan alkohol, atau sirosis), menderita penyakit yang mengurangi perlawanan tubuh terhadap infeksi (kanker kelenjar getah bening, gagal ginjal, kerusakan limpa), menjalani pengobatan (steroid, terapi radiasi), merokok atau menderita asma. 

Lalu yang ke-tiga adalah Vaksin Hib. Buat negara berkembang, bakteri Haemophilus influenzae type B (Hib) adalah penyebab pneumonia dan meningitis utama. Di Indonesia, vaksin pneumonia akibat Hib masuk dalam program imunisasi untuk bayi atau anak usia di bawah 5 tahun. Pemberian vaksin Hib disarankan dilakukan pada anak secara bertahap mulai usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan dan booster diberikan antara usia 15 bulan hingga 18 bulan.

Ketiga vaksin ini berguna untuk mengurangi risiko kemungkinan terkena pneumonia. Akan tetapi, bukan untuk pneumonia Wuhan. (*)

*Dari berbagai sumber

Redaksi: redaksi@dokterkecil.com
Informasi Pemasangan Iklan: iklan@dokterkecil.com
Tren Isu: Berbeda dengan Pneumonia Biasa, Ini Gejala yang Disebabkan Virus Corona